Reinterpretasi Nash tentang Peran Publik Perempuan dalam Hukum Islam: Model Integratif ‘illat, Konteks, Maqashid syariah, dan Hierarki Norma

Authors

  • Rakhmawati STAI Al Washliyah Banda Aceh, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59966/yudhistira.v4i3.2821

Keywords:

‘illat, maqashid syariah, hierarki norma, peran publik perempuan, reinterpretasi nash, perubahan hukum Islam

Abstract

Konstruksi fiqh klasik kerap bersandar pada sejumlah ayat dan hadis untuk membatasi perempuan pada ruang domestik, sementara realitas sosial kontemporer menunjukkan partisipasi luas perempuan dalam kehidupan publik. Pendekatan kontekstual yang ada jarang menyediakan prosedur yang dapat diuji untuk menentukan kapan suatu norma konkret dapat ditinjau kembali. Artikel ini bertujuan merumuskan dan menerapkan prosedur tersebut. Dengan penelitian hukum Islam normatif melalui studi kepustakaan dan analisis kualitatif-kritis, artikel ini memadukan empat indikator berurutan: penggalian ‘illat melalui masalik al-‘illah, rekonstruksi konteks mikro dan makro, pengujian maqashid syariah, serta penilaian norma konkret dalam hierarki norma (al-qiyam al-asasiyyah, al-ushul al-kulliyyah, al-ahkam al-far‘iyyah). Model diterapkan pada lima nash: QS. al-Ahzab ayat 33, QS. al-Baqarah ayat 282, serta tiga hadis tentang kepemimpinan, fitnah, dan ‘aurat perempuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembatasan yang diturunkan dari nash tersebut terkait dengan sebab kontingen, seperti keterbatasan pengalaman, keamanan, dan peristiwa politik tertentu, bukan dengan kodrat perempuan. Ketika sebab itu berubah, penerapan norma konkret dapat ditinjau kembali, sementara nilai dasar berupa perlindungan, keadilan, martabat, dan kemaslahatan tetap dipertahankan. Artikel ini menyimpulkan bahwa perubahan hukum merupakan penilaian ulang yang bernalar terhadap norma konkret, bukan penolakan terhadap wahyu. Kontribusinya adalah model metodologis yang dapat direplikasi beserta implikasinya bagi hukum Islam di Indonesia.

References

Anwar, S. (2016). Teori pertingkatan norma dalam usul fikih. Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, 50(1). https://asy-syirah.uin-suka.com/index.php/AS/article/view/501-06

Arief, A., Syamsuddin, D., & Syatar, A. (2022). Diskursus illat, hikmah dan sabab serta korelasinya pada konstruksi hukum Islam. Comparativa: Jurnal Ilmiah Perbandingan Mazhab dan Hukum, 3(1), 51–69.

Asriaty, A. (2016). Kontroversi kesaksian perempuan dalam QS al-Baqarah (2): 282 antara makna normatif dan substantif dengan pendekatan hukum Islam. Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam. http://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Yudisia/article/view/2136

Auda, J. (2008). Maqasid al-shariah as philosophy of Islamic law: A systems approach. International Institute of Islamic Thought.

Al-Bukhari, M. I. (1422 H). Sahih al-Bukhari (M. Z. al-Nasir, Ed.). Dar Tawq al-Najah.

Duderija, A. (2020). Contemporary Muslim male reformist thought and gender equality affirmative interpretations of Islam. Feminist Theology, 28(2), 161–181.

Fadel, M. (1997). Two women, one man: Knowledge, power, and gender in medieval Sunni legal thought. International Journal of Middle East Studies, 29(2), 185–204. https://doi.org/10.1017/S0020743800064412

Ibn Hajar al-‘Asqalani, A. A. (1379 H). Fath al-Bari syarh Sahih al-Bukhari (Juz 8 & 13). Dar al-Ma‘rifah.

Haswa, M., Baker, M., & Alnaief, M. (2024). Image of women in Islam: Maqasid approach for correct interpretation. Journal of Islamic Thought and Civilization, 14(1), 1–16. https://doi.org/10.32350/jitc.141.01

Imawan, Y. (2022). Interpretasi hadis fitnah perempuan: Penerapan qira’ah mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir. Holistic al-Hadis, 8(1), 108–. https://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/holistic/article/view/5539

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya (Edisi penyempurnaan 2019). Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. https://quran.kemenag.go.id

Kodir, F. A. (2019). Qira’ah mubadalah: Tafsir progresif untuk keadilan gender dalam Islam. IRCiSoD.

Al-Maraghi, A. M. (1946). Tafsir al-Maraghi (Juz 22). Mustafa al-Babi al-Halabi.

Mawarda, L. (2025). Reinterpretasi hadis larangan kepemimpinan perempuan: Telaah hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd. Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman, 14. https://journal.ipmafa.ac.id/index.php/islamicreview/article/view/1677

Mir-Hosseini, Z. (2003). The construction of gender in Islamic legal thought and strategies for reform. Hawwa, 1(1), 1–28. https://doi.org/10.1163/156920803100420252

Mir-Hosseini, Z. (2006). Muslim women’s quest for equality: Between Islamic law and feminism. Critical Inquiry, 32(4), 629–645. https://doi.org/10.1086/508085

Mukaromah, K. (2024). Hadis aurat dan fitnah perempuan: Ragam pemahaman dan implikasinya terhadap akses dan kontrol perempuan. SETARA: Jurnal Studi Gender dan Anak, 6(2), 35–57.

Muslim, I. H. (n.d.). Sahih Muslim (M. F. ‘Abd al-Baqi, Ed.). Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.

Al-Nawawi, Y. S. (1392 H). Al-Minhaj syarh Sahih Muslim ibn al-Hajjaj (Juz 17). Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.

Nurlaelawati, E., & Salim, A. (2013). Gendering the Islamic judiciary: Female judges in the religious courts of Indonesia. Al-Jami‘ah: Journal of Islamic Studies, 51(2), 247–278. https://doi.org/10.14421/ajis.2013.512.247-278

Parwanto, W., & Rosdiawan. (2013). Reinterpretasi kesaksian perempuan dalam QS al-Baqarah [2]: 282 (Menelisik antara pemahaman normatif-tekstualis dan historis-kontekstualis). Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak. https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/raheema/article/view/1084

Ibn Qayyim al-Jauziyyah, M. A. B. (n.d.). Al-Thuruq al-hukmiyyah fi al-siyasah al-syar‘iyyah. Maktabat Dar al-Bayan.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of Chicago Press.

Saeed, A. (2006). Interpreting the Qur’an: Towards a contemporary approach. Routledge.

Setyono, J. (2015). Good governance dalam perspektif Islam (Pendekatan ushul fikih: Teori pertingkatan norma). Muqtasid: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, 6(1), 25–40.

Syarifuddin, S. (2021). Maqashid syari‘ah Jasser Auda: Sebuah sistem pendekatan dalam hukum Islam kontemporer. Al-Mizan, 17(1), 27–42. https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/am/article/view/2061

Al-Syathibi, I. M. (1997). Al-Muwafaqat (M. H. Salman, Ed.). Dar Ibn ‘Affan.

Al-Tirmidzi, M. I. (1975). Sunan al-Tirmidzi (A. M. Syakir, Ed.). Mustafa al-Babi al-Halabi.

Yusuf, N., & Harun, N. (2024). Examining the basis of maqashid syariah in renewal of Islamic law in Indonesia. Petita: Jurnal Kajian Ilmu Hukum dan Syariah, 9(1). https://doi.org/10.22373/petita.v9i1.258

Ibn ‘Asyur, M. T. (2004). Maqashid al-syari‘ah al-islamiyyah (M. al-H. Ibn al-Khujah, Ed.). Wizarat al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah.

Downloads

Published

2026-09-07

How to Cite

Rakhmawati. (2026). Reinterpretasi Nash tentang Peran Publik Perempuan dalam Hukum Islam: Model Integratif ‘illat, Konteks, Maqashid syariah, dan Hierarki Norma. YUDHISTIRA : Jurnal Yurisprudensi, Hukum Dan Peradilan, 4(3), 7–18. https://doi.org/10.59966/yudhistira.v4i3.2821

Issue

Section

##section.default.title##