Melampaui Demokrasi Formal: Legitimasi Kelembagaan dan Keterlekatan Politik Badan Permusyawaratan Desa di Desa Bunten Barat, Kabupaten Sampang
DOI:
https://doi.org/10.59966/yudhistira.v4i3.2861Keywords:
Badan Permusyawaratan Desa, legitimasi kelembagaan, keterlekatan politik, good governance, pemerintahan desaAbstract
Penelitian ini menganalisis legitimasi kelembagaan dan keterlekatan politik Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam perspektif good governance, dengan fokus pada legitimasi prosedural pengisian anggota, independensi kelembagaan, dan legitimasi sosial BPD sebagai lembaga representasi. Penelitian kualitatif dengan desain yuridis-empiris ini memadukan pendekatan perundang-undangan dan sosiologis. Data dihimpun melalui wawancara mendalam dengan 15 informan, observasi, dan studi dokumen di Desa Bunten Barat, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, pada periode Agustus 2025–Agustus 2026, lalu dianalisis secara interaktif dan diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, pengisian anggota BPD menghasilkan keanggotaan yang sah secara administratif, tetapi tahapannya tidak dapat diverifikasi secara dokumenter dan minim keterbukaan; kedua, kedekatan politik dan kekerabatan sebagian anggota dengan Kepala Desa berpotensi melemahkan independensi pengawasan; ketiga, rendahnya pengenalan warga terhadap anggota BPD menandai keterputusan representasi (representative disconnect). Penelitian ini memperkenalkan konsep keterlekatan politik lembaga pengawas desa untuk menjelaskan mengapa kewenangan formal tidak otomatis menghasilkan pengawasan substantif. Implikasinya, penguatan BPD harus dimulai dari rekrutmen yang transparan, pengelolaan konflik kepentingan, akuntabilitas internal, dan komunikasi aspirasi yang berkelanjutan.
References
Alkadafi, M., et al. (2025). Hybrid and collaborative governance model for village development in Indonesia. Jurnal Administrasi Publik, 15(2). https://doi.org/10.31289/jap.v15i2.14443
Amanu, D., Utami, N. S., & Isnaeni, D. (2025). Synergy of village consultative body and village head toward good governance. Academia Open, 10(2). https://doi.org/10.21070/acopen.10.2025.12746
Antlöv, H., Wetterberg, A., & Dharmawan, L. (2016). Village governance, community life, and the 2014 Village Law in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 52(2), 161–183. https://doi.org/10.1080/00074918.2016.1129047
Aspinall, E., & Berenschot, W. (2019). Democracy for sale: Elections, clientelism, and the state in Indonesia. Cornell University Press. https://doi.org/10.7591/9781501732997
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sampang. (2025). Kecamatan Ketapang dalam angka 2025. BPS Kabupaten Sampang.
Baskoro, A. (2025). Strengthening good village governance strategy: Transparency, accountability, and inclusive rural development. Bestuurskunde: Journal of Governmental Studies, 5(1), 39–50. https://doi.org/10.53013/bestuurskunde.5.1.39-50
Bevir, M. (2012). Governance: A very short introduction. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/actrade/9780199606412.001.0001
Bovens, M., Goodin, R. E., & Schillemans, T. (Eds.). (2014). The Oxford handbook of public accountability. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199641253.001.0001
BPD Desa Bunten Barat. (2026). Laporan kinerja BPD tahun anggaran 2025 Desa Bunten Barat, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang.
Fung, A., & Wright, E. O. (2001). Deepening democracy: Innovations in empowered participatory governance. Politics & Society, 29(1), 5–41. https://doi.org/10.1177/0032329201029001002
Granovetter, M. (1985). Economic action and social structure: The problem of embeddedness. American Journal of Sociology, 91(3), 481–510. https://doi.org/10.1086/228311
Haryanto, Berenschot, W., & Aspinall, E. (2025). Participation without accountability: Deliberative democracy in village Indonesia. South East Asia Research, 33(1), 49–67. https://doi.org/10.1080/0967828X.2025.2483162
Helmke, G., & Levitsky, S. (2004). Informal institutions and comparative politics: A research agenda. Perspectives on Politics, 2(4), 725–740. https://doi.org/10.1017/S1537592704040472
Hood, C. (1991). A public management for all seasons? Public Administration, 69(1), 3–19. https://doi.org/10.1111/j.1467-9299.1991.tb00779.x
Huda, N. (2015). Hukum pemerintahan desa. Setara Press.
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 Tahun 2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Desa, PDTT Nomor 16 Tahun 2019 tentang Musyawarah Desa.
Lukes, S. (2005). Power: A radical view (2nd ed.). Palgrave Macmillan.
Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi). Kencana.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE.
Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Nurcholis, H. (2011). Pertumbuhan dan penyelenggaraan pemerintahan desa. Erlangga.
OECD. (2023). Open government for stronger democracies: A global assessment. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/5478db5b-en
Pemerintah Desa Bunten Barat. (2025). Dokumen pengangkatan struktur BPD Desa Bunten Barat.
Pemerintah Kecamatan Ketapang. (2022). Berita acara pengangkatan sumpah anggota BPD Desa Bunten Barat, 2 Juni 2022.
Pitkin, H. F. (1967). The concept of representation. University of California Press.
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7.
Republik Indonesia. (2024). Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Sarkanto, et al. (2024). Optimizing BPD post-amendment: Strengthening village governance and community welfare in Indonesia. Syiah Kuala Law Journal, 8(3). https://doi.org/10.24815/sklj.v8i3.41207
Soekanto, S. (2014). Pengantar penelitian hukum. UI Press.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. RajaGrafindo Persada.
Suchman, M. C. (1995). Managing legitimacy: Strategic and institutional approaches. Academy of Management Review, 20(3), 571–610. https://doi.org/10.5465/amr.1995.9508080331
Syafrudin, A., & Na’a, S. (2010). Republik desa: Pergulatan hukum tradisional dan hukum modern dalam desain otonomi desa. Alumni.
United Nations Development Programme. (1997). Governance for sustainable human development. UNDP.
United Nations Development Programme. (2014). Governance for sustainable development: Integrating governance in the post-2015 development framework. UNDP.
Urbinati, N., & Warren, M. E. (2008). The concept of representation in contemporary democratic theory. Annual Review of Political Science, 11, 387–412. https://doi.org/10.1146/annurev.polisci.11.053006.190533
World Bank. (2017). World development report 2017: Governance and the law. World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-0950-7.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhaki, Munadi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







